LUWUK, RADAR SULAWESI – Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai (UMLB), Dr. Sutrisno K Djawa, menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan yang memberikan peluang bagi perguruan tinggi untuk membangun dan mengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil sebagai respon langsung atas pernyataan resmi dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.
Dalam kegiatan Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang digelar di Makassar pada 28-29 April 2026 lalu, Dadan Hindayana menegaskan ajakannya agar setiap kampus memiliki minimal satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang dikelola secara mandiri.
“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan dalam keterangan resmi yang dirilis BGN.
Dadan menjelaskan lebih lanjut, fungsi SPPG di lingkungan kampus tidak hanya sebatas tempat memproduksi makanan bergizi, tetapi juga berpotensi menjadi laboratorium praktik bagi mahasiswa. Selain itu, keberadaannya juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal dengan menghubungkan mata rantai produksi pangan dari hulu hingga ke hilir.
Merespons hal tersebut, Dr. Sutrisno K Djawa menegaskan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi rencana strategis ini. Menurutnya, keterlibatan universitas sangat selaras dengan fungsi lembaga pendidikan sebagai pencetak sumber daya manusia unggul, khususnya di bidang gizi.
“Kami menyambut baik dan mendukung penuh wacana ini. Universitas merupakan lembaga pendidikan yang melahirkan SDM, salah satunya di bidang gizi,” ucap Dr. Sutrisno.
Ia juga menambahkan, kehadiran Program Studi Gizi di UMLB sejatinya merupakan bentuk antisipasi dan jawaban atas kebutuhan masyarakat serta program nasional di bidang pemenuhan gizi. Oleh sebab itu, pengelolaan dapur MBG dinilai sebagai wujud implementasi ilmu yang nyata demi kesejahteraan bersama. ***




Komentar