LUWUK, RADAR SULAWESI – Wacana penutupan sejumlah Prodi di perguruan tinggi di Indonesia mendapat tanggapan dari berbagai kalangan dunia akademisi. Salah satunya dari Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk Banggai, Dr. Sutrisno K Djawa.
Menanggapai wacana tersebut, Dr. Sutrisno berpendapat bahwa hal itu sah-sah saja dilakukan jika kemudian Prodi tersebut tidak lagi produktif.
Namum demikian, menurutnya tak mudah untuk melakukan kebijakan tersebut. Apalagi sebagai perguruan tinggi swasta (PTS). Di mana mekanisme dalam membuat keputusan hingga mendapat dukungan suport dalam pengembangan kampus tentunya membutuhkan persetujuan LLDIKTI.
“Bisa saja dilakukan kalau melihat Prodi itu tak lagi produktif. Tapi tidak mudah untuk dihilangkan begitu saja. Tentu kampus bisa melakukan merger antara prodi yang dianggap relevan dengan masa depan,” pungkas Rektor dua periode itu.
Selain itu, Dr. Sutrisno menerangkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar industri, kampus dituntut untuk lebih berperan aktif dalam melahirkan serta mendorong peningkatan mahasiswanya.
Peningkatan itu dapat dilakukan dengan merubah mindset mahasiswa serta menggali potensi atau skil dan inovasi hingga ide kreativitas, guna menciptakan lapangan kerja secara mandiri.
“Jadi mahasiswa kita dorong secara Entrepreneur, sehingga para lulusan tak perlu khawatir dengan statusnya sebagai sarjana dan tidak bergantung kepada pemerintah,” terangnya.
Baginya, hidup di era serba digital, peran mahasiswa dituntut harus mampu berperan adaptif dan membangun kolaborasi antar sesama maupun dengan berbagai pihak setelah lulus nanti.
Maka peran kampus sangatlah penting untuk dapat mendorong potensi mahasiswa agar melahirkan para lulusan yang produktif.
“Dengan begitu, kampus melahirkan generasi emas yang nantinya dipersiapkan untuk menyambut bonus demografi pada tahun 2030, di mana selaras dengan program pemerintah kedepannya,” tandasnya.
Di sisi lain, untuk menyiapkan hal ini, kata Dr. Sutrisno, bahwa peran pemerintah juga harus mampu mengentaskan jumlah anak putus sekolah.
Pasalnya, masih banyak ditemukan di berbagai daerah, anak-anak yang hingga kini belum tersentuh hak pendidikannya. Berdasarkan data yang ia temukan terdapat kurang lebih sekitar 2000-an anak putus sekolah.
Maka terlebih dahulu pemerintah harus menyelesaikan hal tersebut. Sehingga terjadinya sistem keberlanjutan antara peran pemerintah dan perguruan tinggi untuk menyiapkan lulusan dan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing.
“Kalau hal itu bisa tercapai, maka selanjutnya tugas dan peran perguruan tinggi untuk bagaimana melahirkan SDM yang unggul,” cetusnya.
Saat ini, kata Dr. Sutrisno, dalam menjawab tantangan era digital, kampus Unismuh Luwuk juga terus berupaya menyesuaikan Prodi baru, dengan menghadirkan kebutuhan pasar industri kerja. Salah satunya Prodi Ilmu Gizi.
Di mana kampus Unismuh mampu membaca tuntutan pasar industri hari ini. Apalagi Prodi tersebut juga memiliki pengetahuan tentang penanganan stunting maupun ilmu gizi lainnya.
“Kehadiran Prodi ini bagian dari relevansi untuk menjawab kebutuhan pemerintah, guna menciptakan SDM yang berkualitas kedepannya,” ucapnya.
Diketahui, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berencana menutup sejumlah program studi (Prodi) di perguruan tinggi yang dinilai kurang relevan dengan dunia industri.
Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, di Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis, 23 April 2026.
Dilansir dari media Antaranews.com, penutupan itu menurut Badrun, dikarenakan banyaknya lulusan sarjana namun tidak sebanding dengan dunia industri saat ini.
Ketika terjadi deindustrialisasi dini, para lulusan sarjana tak jarang banyak mengalami kesulitan dalam dunia pasar kerja.
Badrun menyebutkan Kemendiktisaintek mencatat setiap tahun kampus meluluskan 1,9 juta generasi muda terdiri dari 1,7 juta sarjana dan sisanya diploma.
Sehingganya pemerintah mengeluarkan inisiatif meningkatkan industrialisasi, khususnya industri spesifik. Ia mengatakan ada delapan industri strategis untuk mendorong perguruan tinggi agar lebih mengoptimalkan peluang tersebut. Di antaranya, energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju.
Namun Badrun mengaku hal tersebut akan disusun secara bersama melalui kajian-kajian dari kepengurusan konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PKPT) berdasarkan kebutuhan. ***

Komentar