SCROLL KE BAWAH UNTUK MELIHAT LEBIH BANYAK KONTEN

HUT ke-87 Jemaat Efata Bulagi, Ibadah Syukur Angkat Budaya dan Bahasa Banggai

BANGKEP, RADAR SULAWESI.id – Gereja Protestan Indonesia Banggai Kepulauan (GPIBK) Jemaat Efata Bulagi merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-87 melalui ibadah syukur yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita, Minggu (11/10/2026). Ibadah syukur tersebut dipimpin langsung oleh Pdt. Hanok Maasi, S.Th., Wakil Ketua Sinode GPIBK. Ibadah syukur berlangsung di Gedung Gereja Efata Bulagi pukul 09.00 WITA.

Kegiatan tersebut dihadiri Majelis Pekerja Harian (MPH) GPIBK, para pelayan dan hamba Tuhan, jemaat, serta tamu undangan lainnya yang berasal dari desa-desa tetangga. Perayaan ini menjadi momentum penting bagi seluruh jemaat untuk mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan pelayanan Jemaat Efata yang telah memasuki usia ke-87 tahun.

Ada hal menarik dalam perayaan HUT kali ini. Nuansa budaya lokal begitu kental mewarnai seluruh rangkaian ibadah. Para pelayan, majelis, dan hamba Tuhan tampil mengenakan pakaian adat Banggai Kepulauan yang dihiasi berbagai pernak-pernik dengan corak dan warna khas daerah. Penampilan tersebut menjadi simbol identitas, kebanggaan, serta penghormatan terhadap adat istiadat masyarakat Banggai Kepulauan.

Tidak hanya melalui pakaian adat, kekayaan budaya daerah juga ditampilkan lewat tarian tradisional. Suasana ibadah semakin istimewa karena puji-pujian, doa, hingga pembacaan firman Tuhan menggunakan bahasa Banggai. Penggunaan bahasa daerah dalam seluruh rangkaian liturgi memberikan nuansa tersendiri sekaligus memperlihatkan bahwa nilai-nilai budaya lokal dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan iman umat Kristen.

Hadirkan Pdt. Dr. Gilbert Lumoindong di HUT ke-13 Morut, Bupati Delis: Ulang Tahun Adalah Momen Mengucap Syukur

Pdt. Hanok Maasi, S.Th., yang memimpin jalannya ibadah, menggunakan bahasa Banggai dalam pelayanan liturgi, mulai dari puji-pujian, doa, hingga penyampaian firman Tuhan. Bahkan, ayat demi ayat Alkitab dibacakan dalam bahasa daerah tersebut. Hal ini menjadikan perayaan HUT ke-87 Jemaat Efata Bulagi tidak sekadar sebagai ungkapan syukur atas perjalanan gereja, tetapi juga sebagai upaya menghargai dan mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat setempat.

Ketua jemaat Efata bulagi Pdt Masye Pangkey M.TH selaku penanggung jawab dalam jemaat menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh jemaat Efata bulagi yang telah bersatu padu mendukung serta mensponsori seluruh kegiata pelayanan dalam jemaat termasuk persiapan perayaan HUT semoga iman Kristen akan terus bertumbuh ditengah tengah jemaat, ucapnya. Salah seorang jemaat ibu Elin juga mengungkapkan bahwa perayaan HUT ke-87 Jemaat Efata Bulagi kali ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, penggunaan bahasa Banggai dalam seluruh rangkaian tata ibadah atau liturgi menjadi pengalaman yang istimewa. Suasana tersebut menghadirkan kedekatan dengan tradisi leluhur sekaligus memberikan makna tersendiri bagi jemaat yang mengikuti ibadah syukur.

Ia juga mengaku bangga karena untuk pertama kalinya mengenakan pakaian adat Banggai dalam perayaan HUT jemaat tersebut. Baginya, penggunaan busana tradisional bukan hanya pelengkap acara, melainkan bentuk kecintaan terhadap budaya daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda, yang mengingat kan kita betapa kaya dan indahnya ciptakan Tuhan bagi kita semua.

Ketua dan seluruh jemaat berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar adat istiadat dan bahasa Banggai tidak hilang ditelan perkembangan zaman.“Semoga ke depannya adat istiadat suatu daerah terus dipertahankan dan dilestarikan. Kita sebagai generasi penerus harus bangga dengan budaya sendiri,” ungkapnya usai mengikuti seluruh rangkaian ibadah syukur HUT ke-87 Jemaat Efata Bulagi.

Perayaan HUT ke-87 Jemaat Efata Bulagi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan ant jemaat, serta menumbuhkan semangat pelayanan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Melalui perpaduan ibadah dan budaya lokal, Jemaat Efata Bulagi menunjukkan bahwa pelestarian bahasa serta adat istiadat Banggai merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas daerah agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.***

KAPOLRES MORUT AJAK PENDETA DAN JEMAAT JAGA KAMTIBMAS, LAYANAN 110 SIAGA 24 JAM

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement