LUWUK, RADAR SULAWESI — Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Banggai sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh Luwuk, Dr. Farid Haluti, mendorong Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unismuh Luwuk membangun kembali ikatan emosional antara alumni dan almamater.
Pesan itu disampaikan Farid saat menjadi keynote speaker dalam Musyawarah Luar Biasa (Muslub) IKA Unismuh Luwuk, Sabtu (24/10/2026), di pelataran Kampus Hijau Unismuh Luwuk.
Menurut Farid, tantangan utama organisasi alumni bukan semata menghimpun lulusan, tetapi bagaimana membuat puluhan ribu alumni tetap merasa memiliki hubungan batin dengan kampus yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.
“Dari puluhan ribu alumni, keterlibatan masih rendah. Kita perlu membangun ikatan batin antara alumni dan kampus,” ujar Farid.
Ia menyebut Unismuh Luwuk telah melahirkan hampir 30 ribu alumni dari jenjang S1 dan S2. Para lulusan tersebut kini tersebar di berbagai daerah dan sebagian telah menduduki posisi strategis.
Namun, potensi besar tersebut dinilai belum terhubung secara maksimal melalui organisasi IKA.
Farid berharap kepemimpinan IKA yang lahir dari Muslub dapat menjadi penggerak untuk menyatukan kembali alumni, membangun komunikasi lintas angkatan, serta memperluas jejaring organisasi.
Salah satu langkah yang ia dorong adalah menggelar reuni akbar. Menurutnya, pertemuan semacam itu bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali rasa memiliki alumni terhadap almamater.
“Alumni jangan setelah selesai kuliah kemudian berjalan sendiri-sendiri. Harus ada hubungan yang terus terbangun dengan almamater,” pesannya.
Farid juga mengingatkan agar IKA tidak hanya hadir ketika membutuhkan dukungan dari pihak rektorat. Sebaliknya, organisasi alumni harus mampu menjadi bagian dari kekuatan yang ikut mendorong kemajuan Unismuh Luwuk.
Alumni yang telah memiliki pengalaman, keahlian, serta jaringan di berbagai sektor, kata dia, dapat memberikan kontribusi melalui pemikiran, kerja sama, maupun akses jaringan yang dimiliki.
Dengan demikian, keberadaan IKA tidak berhenti sebagai organisasi yang menghimpun alumni, tetapi menjadi kekuatan yang memberi manfaat bagi almamater dan masyarakat.
Di sisi lain, Farid menekankan pentingnya menjaga integritas pengurus IKA. Sebagai representasi alumni, setiap pengurus akan membawa nama Unismuh Luwuk di tengah masyarakat.
Karena itu, sikap dan akhlak harus menjadi perhatian utama.
“Pengurus IKA adalah wajah alumni Unismuh Luwuk. Karena itu, sikap dan akhlak harus dijaga,” tegasnya.
Bagi Farid, Muslub bukan hanya momentum memilih kepengurusan baru. Lebih dari itu, forum tersebut harus menjadi titik awal untuk memperkuat kembali hubungan emosional antara alumni, organisasi IKA, dan almamater.
Jika ikatan itu terbangun, puluhan ribu alumni yang selama ini tersebar dapat menjadi kekuatan besar bagi masa depan Unismuh Luwuk.***











Komentar