SCROLL KE BAWAH UNTUK MELIHAT LEBIH BANYAK KONTEN

Catatan Anak Desa: Jalan Rusak Parah, Warga Lauwon Terpaksa Tempuh 32 Km Selama 2,5 Jam

Vajrin Rekesi

Penulis : Vajrin Rekesi / Mahasiswa UMLB

JARAK Desa Lauwon di Kecamatan Luwuk Timur ke pusat kota Luwuk hanya tercatat sekitar 31,8 kilometer. Secara hitungan normal, jarak tersebut seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Namun, kondisi infrastruktur yang memprihatinkan memaksa warga menghabiskan waktu dua hingga dua setengah jam hanya untuk menembus jalan yang rusak parah dan nyaris tak layak dilalui.

Jalan utama penghubung desa tersebut kini tidak lagi memiliki fungsi sebagaimana mestinya. Lapisan aspal telah hilang dan tergerus habis, menyisakan permukaan yang penuh lubang menganga, bebatuan tajam, serta kubangan lumpur yang menjadi jebakan bagi setiap kendaraan yang lewat. Kondisi ini membuat kendaraan roda dua maupun roda empat harus bergerak sangat pelan, bahkan sering kali mengalami kerusakan atau mogok di tengah jalan.

Warga setempat menilai kondisi ini merupakan bentuk kelalaian yang dibiarkan berlarut-larut. Padahal, letak desa ini tergolong dekat dengan pusat pemerintahan daerah, namun keberadaannya seolah terpinggirkan dari peta prioritas pembangunan. Janji perbaikan yang kerap diungkapkan dalam berbagai forum, hingga kini belum terwujud di lapangan.

Kerusakan jalan tersebut tidak hanya menjadi persoalan fisik semata, tetapi telah menjadi penghambat utama roda perekonomian dan pelayanan dasar. Warga mengeluhkan hasil pertanian sulit didistribusikan ke pasar, aktivitas pendidikan terganggu karena akses yang sulit, hingga pelayanan kesehatan menjadi taruhan nyawa. Ketika ada warga yang sakit mendadak atau membutuhkan pertolongan cepat, kondisi jalan yang buruk menjadi penghalang fatal yang bisa berakibat fatal.

GMKI Tentena Minta PT Poso Energi Tinjau Kembali Operasi Modifikasi Cuaca

Hingga saat ini, belum ada kepastian jadwal perbaikan dari pemerintah daerah. Tidak ada tenggat waktu, tidak ada rencana kerja yang transparan, dan sinyal keseriusan penanganan pun belum terlihat jelas. Kebisuan pemerintah di tengah keluhan warga semakin mempertegas kesan bahwa masalah ini dianggap bukan prioritas, melainkan beban yang sengaja ditunda penyelesaiannya.

Bagi masyarakat Desa Lauwon, jalan adalah urat nadi kehidupan. Membiarkan jalan tersebut rusak dan terbengkalai sama artinya dengan membiarkan warga hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan tertinggal dari daerah lain. Warga pun menuntut perhatian serius, bukan kemewahan, melainkan hak dasar berupa akses jalan yang layak.

“Pembangunan yang sering dielu-elukan tidak ada artinya jika jalan menuju ke desa kami saja dibiarkan hancur begini. Selama lubang-lubang ini belum ditambal, berarti nurani penguasa sedang diuji,” ujar salah satu warga, mewakili harapan masyarakat yang kini menanti kepastian. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement