SCROLL KE BAWAH UNTUK MELIHAT LEBIH BANYAK KONTEN

87 Tahun Merdeka, Warga Jayabakti Masih ‘Belum Merdeka’ dari Krisis Air Bersih

Ilustrasi krisis air bersih. [Foto: wastec internasional]

PAGIMANA, RADAR SULAWESI – Di tengah gemerlap perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-87, realitas pahit masih menghantui warga Desa Jayabakti, Kecamatan Pagimana. Selama lebih dari sepekan terakhir, aliran air bersih dari jaringan distribusi setempat lumpuh total. Ribuan jiwa terpaksa berjuang keras demi kebutuhan paling dasar tersebut.

Krisis ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan beban ekonomi dan psikologis yang berat. Warga kini terpaksa membeli air dalam kemasan gelon untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, hingga mandi. Ironisnya, titik penjualan air tersebut tidak berada di lingkungan mereka, melainkan mengharuskan warga menempuh jarak jauh keluar kampung.

“Kami harus rela mengeluarkan uang lebih hanya untuk mendapatkan air. Belum lagi ongkos transportasi karena tempat belinya jauh,” keluh salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Beban Ganda Saat Hajatan dan Kedukaan

Kesulitan ini terasa semakin pelik ketika warga menghadapi momen-momen penting seperti hajatan pernikahan atau kedukaan (kematian). Dalam budaya lokal, kedua momen tersebut membutuhkan ketersediaan air dalam jumlah besar untuk keperluan sanitasi dan konsumsi tamu.

Kekurangan Pasokan Air Bersih, Bahontula Optimalkan Lima Tandon

Akibat krisis ini, warga terpaksa menggelontorkan dana tambahan yang signifikan hanya untuk membeli air, menambah beban finansial di saat mereka seharusnya fokus pada prosesi adat dan sosial. “Saat ada yang meninggal atau menikah, itu semakin terasa. Uang habis bukan untuk acara, tapi cuma buat beli air,” tambah warga.

Refleksi Kemerdekaan yang Belum Tuntas

Situasi di Jayabakti menjadi ironi tersendiri di bulan Agustus ini. Sudah 87 tahun Indonesia merdeka, namun akses terhadap air bersih—yang merupakan hak asasi manusia dan kebutuhan dasar—masih menjadi barang mewah bagi sebagian warga desa ini.

“Di momen kemerdekaan ini, rasanya kami belum benar-benar merdeka. Merdeka dari rasa haus, merdeka dari ketakutan akan kebersihan, dan merdeka dari beban biaya air yang mencekik,” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan kapan aliran air bersih akan kembali normal. Warga Jayabakti kini hanya bisa berharap agar perhatian pemerintah daerah segera turun tangan, bukan hanya saat musim kemarau melanda, tetapi sebagai solusi infrastruktur jangka panjang. Karena sejatinya, kemerdekaan yang hakiki dimulai dari terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warganya. ***

Perbaikan Jalan 948 Meter, Bukti Nyata Kontribusi Industri untuk Masyarakat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement