SCROLL KE BAWAH UNTUK MELIHAT LEBIH BANYAK KONTEN

Perpustakaan Daerah Morut Minim Fasilitas, Koleksi Buku Itu Yang Utama.

filter: 0; jpegRotation: 0; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Night; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 0.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

MORUT RADAR SULAWESI, Id – Perpustakaan Daerah Morowali Utara hingga kini masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan koleksi buku. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas terkait, Chester Tumimomor, saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Rabu pagi (4/03/2026). Menurut Chester, kondisi fasilitas di perpustakaan saat ini masih sangat minim, meskipun gedung yang ditempati tergolong representatif dan megah.

Ia menekankan bahwa kelengkapan sarana di dalam gedung belum sebanding dengan kebutuhan pelayanan literasi masyarakat.“Yang paling utama adalah ketersediaan buku. Gedung ini sudah cukup mewah dan sangat baik, namun tanpa koleksi yang memadai tentu fungsi perpustakaan belum maksimal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan standar untuk tingkat kabupaten, jumlah judul buku yang ideal harus mencapai 12.000 judul. Sementara untuk tingkat provinsi itu, standar koleksi bahkan mencapai 25.000 judul buku. Saat ini, Perpustakaan Daerah Morowali Utara baru memiliki sekitar 4.000 judul buku dengan total fisik buku yang tersedia sekitar 6.000 eksemplar.

Jumlah tersebut dinilai masih jauh dari standar yang ditetapkan. Selain kekurangan koleksi buku, perpustakaan juga masih membutuhkan berbagai fasilitas pendukung lainnya seperti rak buku, meja baca, kursi, serta sarana penunjang kenyamanan pengunjung. Kondisi ini diharapkan dapat segera dibenahi secara bertahap.

Pulang Haji, Dadan Hindayana Dicopot Dari Jabatannya dan Langsung Ditahan Kejagung

Mantan Kepala Dinas Perikanan itu juga menambahkan pentingnya penyediaan buku Braille sebagai bentuk layanan inklusif bagi penyandang disabilitas netra. Buku Braille menggunakan sistem tulisan timbul dari kombinasi enam titik yang dapat diraba dengan jari. Menurutnya, buku tersebut sangat berfungsi sebagai sarana literasi, pendidikan, serta akses informasi mandiri bagi penyandang disabilitas netra yang ingin membaca, menulis, maupun mempelajari berbagai ilmu pengetahuan di perpustakaan ini.

Sebelumnya, Pemerintah Daerah Morowali Utara telah merencanakan pengalokasian anggaran setiap tahun guna melengkapi fasilitas dan koleksi buku di perpustakaan tersebut. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus memperkuat budaya literasi di daerah. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, Perpustakaan Daerah Morowali Utara tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Dukungan anggaran dan perhatian pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat pemenuhan standar fasilitas dan koleksi buku, sehingga perpustakaan benar-benar menjadi pusat literasi dan sumber ilmu pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement